Kandidat Kita

July 5, 2009

Beberapa hari yang lalu (dan waktu-waktu yang lalu juga) sempet nonton debat capres, entah gw yang bego atau emang acaranya ngga menarik tapi kayanya tiap gw dengerin acara itu gw tetep ngga bisa dapet “greget” yang pengen disampein sama para capres tersebut. Yang bisa gw inget ttg acara debat capres paling2 cuma kejadian kejadian lucu ngga penting kaya waktu si momod (aviliani) kelupaan ngasih kesempatan ngomong bu mega, aseli gw ketawa ngakak liat muka nya bu mega langsung berubah ngga enak.

Beda banget rasanya kalau gw lagi nonton infotaintement yang walaupun cuma 0.5 jam tapi gw bisa apal mati tadi si yuni shara ngomong apa ttg rafi ahmad, atau kronologis kejadian cici paramida, atau si artis A ngoleksi apa dan udah punya berapa banyak. sigh, kenapa ya otak gw kok sering refleks kepake untuk hal yang ngga penting gitu.

Anyhoo, gw justru lumayan “terbantu” dengan iklan2 para capres ini, menurut gw semua pasangan capres ini sukses merepresentasikan konsep yang berbeda. Untuk gw pribadi, gw suka banget sama konsep yang diusung pasangan JK-Win, yaitu “kemandirian”. Sesuatu yang selama ini luput menjadi perhatian pemerintah. Bengah gw dengan tradisi berhutang indonesia, dan pola orang indonesia yang selalu mengkiblatkan diri dengan mengagung2kan dunia barat. Hey ini waktu nya kita berubah, benahi SDM indonesia dan insyaallah kita bisa merubah bangsa kita sendiri tanpa bantuan negara2 lain. Kita ini kaya dan pintar, hanya sayangnya mental bangsa terjajah belum juga bisa dihilangkan.

Namun, bukan berarti gw serta merta akan milih Jk-Win di tanggal 8 Juli nanti, agak terganjal dengan figure Wiranto yang menurut gw terlalu ambisius dan tidak simpatik (well, ketika gw ngomong tidak simpatik harap digarisbawahi kalau artinya tidak bisa disamakan dengan tidak ganteng). Sudah kesekian kalinya Wiranto maju dalam bursa capres cawapres tapi tetep aja untuk kesekian kalinya juga gw ngerasa ngga sreg sama ni orang. Auranya negatif (sotoy mode:on).

Beralih dari JK-Win ke SBY-Boediono, hmm sebenernya menurut gw masih cocokan SBY-JK si. Tanpa mengurangi rasa hormat pada pak Boediono. Karena gw juga sudah membaca profile beliau dari beberapa sumber, dan being honest gw terkesan sekali, sepintas Seperti melihat cerminan bokap gw. Orang yang cerdas, jujur, dan sederhana. Tapi untuk sebuah jabatan wakil presiden perlu lebih dari itu. Gw setuju dengan concern dari PKS, yang mengkhawatirkan Boediono bukan karena dia bermahzab neolib tetapi lebih dikarenakan beliau terlalu “satu” dengan SBY. Takutnya tidak ada dinamika yang saling melengkapi seperti SBY-JK selama ini, dan kemudian akan mengembalikan peran wapres seperti waktu orde baru dahulu, yaitu macan tanpa gigi. Singkatnya, jika nanti terpilih maka gw melihat Boediono akan lebih diposisikan sebagai “pembantu presiden”, berbeda dengan JK yang saat ini diposisikan sebagai “partner presiden”.

Tapi diatas semua itu, ada sesuatu yang paling gw benci ci ci ci yaitu ketika melihat muka Ibas dimana-mana, setia mengintil sang ayah. Jadi mengingatkan gw kembali bagaimana dulu orde baru berusaha membentuk dinasti kerajaan di negara yang berdemokrasi. Heran deh, mengapa orang yang sudah berkuasa cenderung menjadi “rakus”. Kalau gw jadi anak presiden, gw akan ke tempat dimana orang ngga tau kalau gw anak presiden, atau ke tempat yang ngga di bawah daerah kekuasaaan bokap gw dan kemudian mencoba berkontribusi dengan bentuk lain terhadap negara gw. Untuk SBY nya sendiri sih, penilaian gw cukup ok; terlihat sangat berusaha ingin memajukan indonesia, dan masih cukup representatif untuk menjadi kepala negara. 

Lepas JK-Win, dan SBY-Boediono, maka sampailah kita pada pasangan Mega-Pro. bu mega ini ya pasti banyak banget pahala nya abis sering banget secara sukarela bikin kita ketawa; mau dia ngomong kek mau dia diem tetep aja kek pasti diketawain. Jawabannya sering di underestimate. Wondering, apa mungkin kita nya aja yang ngga bisa “nangkep” pesan penting dibalik sikap atau tutur kata beliau. Tapi kesan gw pribadi sama beliau sih, kasian. Tampaknya dia hanya dijadikan “alat” oleh beberapa orang di belakang nya yang berkepentingan dan berambisi untuk menguasai negeri ini.

Untuk Prabowo, beliau terlihat cerdas dan cukup sukses dalam beriklan. Orasinya lumayan, dan seharusnya kalau dilihat dari latar belakangnya dia mampu menjadi pemimpin yang baik. Tapi entah mengapa gw merasa kok Prabowo cuma akan menang jual janji aja, ngga yakin apakah nanti dia mampu merealisasikan semua janji2nya itu karena kok rasanya terlalu berlebihan. Dan seperti yang sudah gw pelajari dari marketing, ketika ekspektasi tidak bertemu dengan realisasinya maka yang ada hanyalah kekecewaan dari konsumen (tsaahhh heheh).  Dan anehnya ketika dia mengusung ekonomi kerakyatan, tapi kenapa kok gw tetap nangkep adanya kesan arogan, sesuatu yang sangat bertolak belakang. 

Ah ngomong apa anti ni, panjang lebar ngalor ngidul. Ngga tau ah politik emang susah untuk dimengerti. Bak seorang aktor yang hanya memainkan perannya, pasti ada skenario lain di belakang semua ini. Tapi apa pun itu, semoga masih ada hati kecil yang menyuarakan kepentingan rakyat Indonesia.

Entry Filed under: Review. .



Leave a comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe to the comments via RSS Feed


Recent Posts

Recent Comments

Categories

Tags

Links