Ternyata aku pun sama dengan orang yang ku benci

October 17, 2008

Minggu kemaren abis nonton laskar pelangi yang dengan suksesnya membuat gw menangis daras, tau siih gw film nya ini emang ngga ada apa2nya di banding kan novelnya.. ada beberapa greget yang (dengan tumbennya) ngga bisa divisualisasi kan oleh miles dan riri. Tapi buat gw yang ngga terlalu suka dengan alur maha lambat di novelnya, maka keberadaan film ini cukup menghibur. Tangisan klimaks gw tepat seperti apa yang sudah di plot kan oleh miles dan riri, yaitu pada saat Lintang harus berhenti sekolah karena ayah nya meninggal.. “dan beban seberat itu harus ditanggung sendiri oleh anak seusia Lintang” gitu kalau ngga salah kata-kata backsound nya. Jadi sedihh, inget amanah yang lagi gw jalanin sekarang karena masih bisa meneruskan sekolah gw semau-mau nya gw. Sampe-sampe gw berdoa “Ya allah, kalau bener Lintang itu ada seperti apa yang diceritakan maka berilah Lintang kebahagiaan dunia dan akhirat mulai hari ini dan seterusnya, menebus beban masa lalu nya yang teramat berat”.

Pulang ke rumah, masih aja gw pikir2 tentang si Lintang itu.. sampe2 gw bertanya kenapa hidup begitu tidak adil buat Lintang. Ini bukan hanya masalah putus sekolah; tapi ini masalah pengorbanan akan impian, kebahagiaan dan kehidupan yang lebih baik. Pengorbanan akan hak yang seharusnya mutlak dimiliki oleh setiap anak-anak. “Ah coba lintang, ku kenal kau dahulu.. tentu kan ku bantu kau segenap tenaga”, tekad gw membara dengan semangad yang meledak-ledak. 

Beberapa waktu kemudian ketika berada di salah satu sudut kota jakarta tercinta ini.. kegundahan itu datang kembali kala melihat anak-anak jalanan yang kian menjamur seakan telah menjadi bagian dari hiasan tata kota “inikah wujud baru Lintang-lintang jaman sekarang?”, “inikah einstein-einstein muda yang layu sebelum berkembang?”, “inikah potret kehidupan indonesia yang tidak berubah sejak beberapa puluh tahun yang lalu?”.. gw terdiam asyik dengan pemikiran-pemikiran tentang mengapa dan kenapa..

Namun gw lupa bahwa pertanyaan terpenting yang seharusnya paling dipertanyakan adalah “kemanakah semangat gw beberapa hari yang lalu? semangat yang begitu besar untuk berkontribusi akan perubahan hidup Lintang..” “Tapi kenapa gw sekarang hanya diam, tergugu, tidak melakukan apapun, bahkan tidak pun menanyakan “dik kenapa kamu tidak berada di sekolah di jam segini?”". Yah ternyata tanpa gw sadari, gw pun sama dengan orang-orang PT. Timah yang gw benci di film itu; yaitu orang yang tidak peka akan sekitar dan orang yang tidak tangkas dalam bersikap untuk membantu orang lain. Anti, bertindak lah bertindak dan bertindak jangan hanya diam, diam dan diam.. ingatlah batapa Allah telah menitipkan sebagian hak mereka kepada mu.

“Ya Allah mudahkanlah ya Allah, mudahkan.. mudahkan jalanku untuk bisa membantu mereka.. entah dengan apa dan bagaimana.. tapi Ya Allah tulus ku ingin mereka agar bisa punya kehidupan yang lebih baik, Amin..”

Entry Filed under: Review. .



8 Comments Add your own

  • 1.    eko  |  October 17th, 2008 at 7:55 am

    hmmm….

    bener banget kalo nilai manfaat kita bagi orang lain menentukan tingkat keberartian kita…

    gud gud…deep thought

  • 2.    anti  |  October 17th, 2008 at 8:53 am

    Sambungan diskusi kita ko:
    [22:35] Eko: pram,ap arti keberhasilan bwtmu?
    [22:36] anti: keberhasilan: 1. menjadi orang yang berguna bagi banyak orang, 2. anak yang berbakti pada orang tua dan suami, 3. hamba yang berjihad di agama allah
    [22:40] Eko: bgku,kbrhasilan it proses,hasil it bonus hehe
    [22:46] Eko: eh ti,kalo kmu jd - (sensor) ku bilang, mbok yao kita mikir yg sdrhana aja haha biar ga repot
    [22:46] Eko: kashan - (sensor lagi)
    [22:46] Eko: hahaha

    Kadang2 berpikir jauh diperlukan ko, sayang gw baru hanya pada tahap berpikir.. belum bertindak.

    Wanna join me to do something ko?

  • 3.    hendra  |  October 17th, 2008 at 9:57 am

    Ah anti, tulisanmu benar-benar membuatku berfikir dan teringat akan masa lalu, dimana untuk sekolah pun perlu perjuangan. Apa ya yang bisa kita lakukan sekarang, rasanya kok tangan ini pendek sekali dan berat sekali, apa karena kita juga masih merasa kekurangan?

  • 4.    anti  |  October 17th, 2008 at 9:32 pm

    Iya ya ndra, bokap lo juga meninggal di saat lo masih kecil. Alhamdulillah ndra, lo masih bisa melanjutkan sekolah.. salut banget sama nyokap lo, dan lo juga tentunya.

    “apa karena kita juga masih merasa kekurangan?”
    Yang terbaik adalah apabila kita masih bisa berbagi bahkan di saat kondisi kita pun serba kekurangan :).

  • 5.    eko  |  October 19th, 2008 at 10:57 pm

    ti…
    think globally act locally…
    dengan begitu kita bisa bergerak dan tidak terjebak pada tataran berpikir saja..^_^..
    hal-hal besar tidak selalu harus dengan pemikiran yang jauh, tapi pemikiran yang dalam dan aksi yang konsisten..

    Hehe berpikir sederhana tidak berarti berpikir untuk diri sendiri, dengan kemampuan melakukan hal-hal besar dengan cara sederhana disitulah kapabilitas seseorang ditentukan (tsahhh)…

  • 6.    Anti  |  October 26th, 2008 at 5:27 am

    Setuju koo. lets do something more than thinking :)

  • 7.    Dion Rinaldi  |  November 9th, 2008 at 7:31 am

    Nti, Bokap dion kerja di PT Timah selama 25 tahun loh… ga termasuk orang yang lu benci kan? he he he…. btw..emang dnger2 dari mama sih dulu banyak yang ga benernya di sono, sebelum Pak Kuntoro yang jadi direktur utamanya.. alhamdulillah… sekarang jauh lebih baik… :D

  • 8.    anti  |  November 11th, 2008 at 9:08 pm

    @dion: kecuali bokap lo ngga deh Yon.. apa sih yang ngga buat dion (tapi pulang dari soro traktir gw ya yon :))

Leave a comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Recent Posts

Recent Comments

Categories

Tags

Links