Unconditional Love
May 8, 2008
Bakerizein,
Plaza Indonesia
at ± 7.30 PM.
Ari: Nyokap
gw nanya “kamu disana tinggal sama siapa aja?”, terus gw jawab “ya berdua
aja..”, nyokap gw nanya lagi “berdua aja? Cuma Steve dan kamu?”, terus ya gw
bilang lagi “iya, Cuma Ari dan Steve”. Dan tiba-tiba lu tau, nyokap gw
ngeluarin cincin dan ngasih ini ke gw (sambil memamerkan cincin yang melingkar
di jari manis kirinya)
Gw: Nyokap
lu ngga nanya apa2 lagi Ri? Serius? Apa kek gitu yang penting2?
Sonya: Honey,
itu yang namanya unconditional love
Yah
mungkin itu yang namanya unconditional love, bisa mencintai orang bagaimanapun
kondisi orang itu. Tanpa menuntut banyak penjelasan, tanpa menuntut banyak
pengorbanan, tanpa menuntut banyak pembuktian. Hanya satu yang membuatnya
bahagia, yaitu bila melihat orang yang dicintainya bahagia.
Sudah
lama sekali rasanya gw ngga ketemu sama sahabat2 SD gw ini. Dan sekarang,
setelah hampir 10 tahun, kita niatin untuk makan malem bareng. Banyak sekali
cerita yang di share sama 2 sahabat gw yang cerewet2 ini. Sebagian kecil
ceritanya udah bisa gw tebak, tapi sebagian besar cerita lainnya ternyata cukup
membuat gw menganga. Yeah, now I realize that we all have grown in our own
ways, and finally it brought us to the situations just like we never known each
other.
Ari
yang bekerja di LSM internasional dan terang2an mengaku bahwa dirinya adalah GAY,
Sonya yang wartawan majalah remaja dengan kahidupan yang juga Jakarta banget,
dan gw yang bekerja di sebuah IT consultant yang kehidupannya in between (kalau
ngga mau dibilang kuper :p)
“kenapa gw dari dulu ngga pernah memperlakukan
dia bener2 sebagai laki2?”
“kenapa
gw dari dulu lebih memperlakukan dia sebagai salah satu sahabat cewek gw, dan
bukannya sahabat cowok gw?”
“kenapa
gw dari dulu ngga menjaga komunikasi yang intens, sehingga bisa menguatkan dia
di saat2 penting ketika mengambil keputusan dalam hidupnya”
“kenapa
gw ngga bisa membantu dia melihat sisi lain hidupnya”
Waduh
kenapa-kenapa dan kenapa.. Yang jelas sekarang si, walaupun ari sudah memilih
jalan yang berbeda dari gw, tapi satu yang pasti gw tetep sayang ari dan gw
tetep mau ari jadi sahabat gw sampai kapanpun. Dan gw pengen ari tau itu.
Makan
malam itu akhirnya lebih kaya gw wartawan yang sedang menyusun biography ari.
Dia cerita panjang lebar tentang semuanya, dan gw berusaha menjadi pendengar
yang baik. Walaupun gw sebenernya masih punya setumpuk pertanyaan lagi untuk
dibahas. Jadi tersindir rasanya dengan konteks unconditional love nya mama nya
ari hehehe. Salut banget deh Tante, gw kira yang kaya gitu Cuma ada di film2
doang.. ternyata..
Tapi
hal lain yang gw perhatiin di malem itu adalah satu fakta bahwa gw ngga pernah
melihat ari sebahagia ini. Kehidupannya yang sekarang sepertinya bisa membuat
dia lebih mencintai hidupnya, menemukan titik kenyamanan terhadap dirinya
sendiri. Walaupun sempat terselip pertanyaan, jujurkah ini semua atau Cuma
usaha menipu hati kecil yang terus meraung?
Entahlah
dunia seakan bergerak ke arah lain yang tak tersentuh oleh gw, banyak hal yang
masih tidak bisa gw mengerti. Gw kaya Cuma jadi penonton di pinggir lapangan
mendengar cerita temen2 gw.
Dan yang pasti hanya bisa berharap agar kondisinya
bisa membaik bagi semua, Amiin
Entry Filed under: Tought. .
5 Comments Add your own
Leave a comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
1. Ilham | May 8th, 2008 at 2:41 am
It’s a very lovely story u wrote about me Anti. Overwhelmed by your memory of every detail over the dinner that night. Yes Anti, this is me, your friend that happen to be GAY. I am happy and even happier when i can share a part of my life story with a friend like you.
2. Ilham | May 8th, 2008 at 2:52 am
These are my answer to your question:
1 & 2. Because you see a delicate side of me and i supposed u were comfortable with it, which u cant find in every guy friends of yours,
3. It’s not your fault Ti. We’re all have our own live. and we have our own way to handle this live. It is true that it was hard to decide and admit that i am gay, but actually the hardest part is when i was keeping it for myself. but now im free, because the whole worldd know about who i really am.
4. Trust me, i have seen it all. Thats why i can take a full responsibilities to decide that I’m gay.
Thanks for your love and care for almost 15 years. it mean alot for me. And thanks for being such a nicest friends ever.
PS: Stop blaming your self of my decision. I am happy of who i am now, although some sad stories lies within as well. It’s life!
3. sOnYa | May 8th, 2008 at 5:21 am
darliiiing
kamu hebat sekali bisa mengingat detail pembicaraan mlm itu
yes dear, we do have grown in our own ways..
jd inget, dulu kita berdua slalu jln bareng kemana-mana, inget ngga sih lo ‘nti, kita smpe digosipin lesbi.. hihihihii.. parah yaa.. msh SD aja kita udh dikira lesbian, just because we’re very close
sama ari juga.. saking deketnya kita smpe smpt ada drama tampar menampar segala bukan? bwhahahaha..
well, klo skrg, kita emang udh jln masing2.. dan yg bikin lucu kynya lmy beda2 dunia yah kita? tp justru itu yg bikin gw merasa betapa Tuhan itu hebat dan kaya bgt, right?
and i love how u describe it all with ur words.. gw udh pnh bilang kan bhw lo bner2 pny bakat nulis? i really love to read ur writings..
btw, masa sih gw “wartawan majalah remaja dengan kahidupan yang juga Jakarta banget” ?
qiqiqiiqqq ;P
4. Brahmanti | May 8th, 2008 at 9:13 pm
@Ari
hehe Ri, the hardest part for me to accept that u r GAY is for not blaming my self because i was not there for you when you made the decision.
@Sonya
Makasih banget Son, tersanjung gw dibilang bagus tulisannya sama seorang wartawan :)). Btw ya iya gitu, lu jakarta banget, emang lu ngga ngerasa :))??… hmmm ato gw yang amat sangat kuper yak? hihihihihi
5. Mg | May 29th, 2008 at 8:25 am
Wowwww…….
I’ve no other words to express this situation……
except “what a wonderfull friendly you have….!!!”….